Bandung, Privatbandung.co.id – Di tengah kesibukan sehari-hari, tak sedikit orang tua yang menjadikan gawai sebagai cara praktis untuk menenangkan anak. Namun, temuan terbaru dari Departemen Pendidikan Inggris memberikan peringatan serius: paparan layar pada anak usia dini perlu dibatasi dengan ketat.
Berdasarkan laporan tersebut, anak di bawah usia lima tahun sebaiknya tidak menghabiskan lebih dari satu jam per hari di depan layar. Bahkan untuk bayi di bawah dua tahun, para ahli menganjurkan agar paparan layar dihindari sama sekali, kecuali dalam situasi interaktif bersama orang tua. Pembatasan ini dianggap sangat penting karena berhubungan langsung dengan tumbuh kembang otak serta kemampuan dasar anak.
Dampak Layar terhadap Kemampuan Bahasa Anak
Sebuah penelitian berskala nasional bertajuk Children of the 2020s mengungkap fakta yang cukup mengkhawatirkan. Anak-anak yang menghabiskan sekitar lima jam sehari di depan layar memiliki penguasaan kosakata yang jauh lebih rendah dibandingkan anak-anak yang hanya terpapar sekitar 44 menit per hari.
Para peneliti juga menemukan bahwa penurunan kemampuan bahasa mulai tampak ketika durasi screen time melampaui sekitar 86 menit atau 1,5 jam per hari. Hal ini sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyarankan anak usia 2–4 tahun tidak menatap layar lebih dari satu jam setiap harinya.
Fenomena ini berkaitan erat dengan masa emas perkembangan otak. Sekitar 90% pertumbuhan otak berlangsung sebelum anak mencapai usia lima tahun — periode krusial di mana interaksi langsung dengan manusia menjadi fondasi utama dalam pembentukan kemampuan bahasa dan keterampilan sosial.
Studi Children of the 2020s sendiri melibatkan sekitar 8.500 bayi yang lahir di Inggris pada periode September hingga November 2021. Penelitian yang dipimpin oleh University College London (UCL) ini memantau perkembangan anak sejak usia sembilan bulan hingga lima tahun.
Selain berdampak pada kemampuan bahasa, anak dengan durasi screen time tertinggi juga berisiko lebih besar mengalami gangguan emosional dan perilaku, dengan angka mencapai 39%. Angka ini jauh melampaui 17% yang tercatat pada anak-anak dengan durasi screen time paling rendah.
Tips Bijak Mengelola Gawai untuk Orang Tua
Ketua tim penelitian, Prof. Pasco Fearon dari UCL, menegaskan bahwa temuan ini bukan berarti gawai harus dianggap sebagai musuh. Ia menjelaskan bahwa penggunaan layar dalam durasi singkat hingga sedang, terutama pada anak di atas dua tahun, tidak menunjukkan dampak negatif yang signifikan. Kuncinya ada pada keseimbangan dan pemilihan jenis konten yang tepat.
Berikut beberapa panduan praktis yang bisa diterapkan orang tua di rumah:
1. Pilih Konten Bertempo Lambat Utamakan tayangan yang sederhana, lambat, dan berulang. Hindari video bergaya media sosial yang bergerak cepat dan dapat membingungkan otak anak.
2. Jadilah Teman Bicara Anak Ajak anak bercakap-cakap sejak dini. Menjelaskan kegiatan sehari-hari secara langsung, seperti saat memasak atau merapikan rumah, jauh lebih efektif untuk perkembangan bahasa dibanding membiarkan mereka menonton sendiri.
3. Terapkan Zona Bebas Gawai Pastikan waktu makan dan satu jam sebelum tidur terbebas dari layar. Gantikan dengan aktivitas lain seperti mendengarkan musik atau mendongeng agar kualitas tidur anak tetap terjaga.
4. Jadilah Teladan yang Baik Anak adalah peniru ulung. Jika orang tua terbiasa memegang ponsel, anak akan menganggapnya sebagai hal yang normal. Simpanlah ponsel saat sedang berinteraksi langsung dengan si kecil.
Solusi Lebih Baik: Arahkan Anak ke Les daripada Berlama-lama dengan HP
Selain membatasi screen time, orang tua dapat mengambil langkah yang lebih proaktif, yaitu mengalihkan waktu anak dari gawai ke kegiatan yang lebih produktif dan bermakna, seperti mengikuti les atau bimbingan belajar.
Mengikutsertakan anak dalam kegiatan les memiliki sejumlah keunggulan nyata dibandingkan membiarkan mereka terpaku pada layar ponsel, antara lain:
Stimulasi otak yang aktif dan terarah. Les mendorong anak berpikir, memecahkan masalah, dan menyerap ilmu baru — jauh lebih bermanfaat bagi perkembangan kognitif dibanding menonton konten pasif di gawai.
Interaksi sosial yang sehat. Dalam kelas les, anak berinteraksi langsung dengan guru dan teman sebaya. Hal ini melatih kemampuan komunikasi, kerja sama, dan kecerdasan emosional mereka secara alami.
Kemampuan bahasa berkembang lebih optimal. Belajar bersama pengajar secara tatap muka memberikan stimulasi bahasa yang jauh lebih kaya dibandingkan sekadar menonton video.
Waktu terstruktur dan disiplin. Jadwal les yang rutin membantu anak membangun kebiasaan belajar yang teratur, membentuk karakter disiplin sejak dini.
Minat dan bakat terasah. Tersedia berbagai pilihan les sesuai minat anak, mulai dari les calistung, bahasa Inggris, matematika, seni, musik, hingga olahraga.
Bagi para orang tua di Bandung, kini semakin banyak pilihan tempat les berkualitas yang bisa disesuaikan dengan usia, kebutuhan, dan minat anak. Daripada membiarkan si kecil menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar ponsel, mengarahkan mereka ke kegiatan les adalah investasi terbaik untuk masa depan mereka.
Ingat, masa emas tumbuh kembang anak hanya terjadi sekali. Manfaatkan sebaik-baiknya dengan pilihan aktivitas yang mendukung potensi mereka secara menyeluruh.***
Referensi: detik.com/edu
